“Hambatan Penglihatan”
Hambatan Penglihatan
Membahas tentang tunanetra, yaitu kondisi gangguan pada indera penglihatan yang menyebabkan seseorang mengalami keterbatasan dalam menerima informasi visual sehingga memengaruhi perkembangan komunikasi, gerak, dan kognitif.
Hambatan penglihatan dibagi menjadi dua klasifikasi, yaitu buta total dan low vision. Buta total merupakan kondisi ketika seseorang sama sekali tidak dapat melihat dan menggunakan huruf braille untuk belajar. Sedangkan low vision adalah kondisi ketika seseorang masih dapat melihat objek, tetapi penglihatannya kabur sehingga objek perlu didekatkan atau dijauhkan.
Karakteristik anak dengan hambatan penglihatan meliputi keterbatasan dalam aspek kognitif, akademik, fisik, motorik, perilaku, dan sosial. Dalam pembelajaran, mereka membutuhkan dukungan akademik, media pembelajaran khusus, lingkungan belajar yang sesuai, dukungan sosial ekonomi, serta pengembangan kemandirian.
Penyebab hambatan penglihatan terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi genetik, gangguan perkembangan saat dalam kandungan, kekurangan gizi selama kehamilan, dan kondisi kesehatan ibu. Faktor eksternal meliputi infeksi penyakit, kecelakaan atau trauma pada mata, paparan zat berbahaya, serta penyakit mata.
Prinsip pengajaran bagi anak tunanetra meliputi prinsip kekonkretan, pengalaman totalitas, aktivitas mandiri, individualisasi, serta kasih sayang dan penerimaan agar proses belajar lebih efektif dan mendukung perkembangan anak.
Materi juga membahas review film My Lovely Angel yang menceritakan hubungan Jae-sik dan Eun-hye, seorang anak dengan hambatan penglihatan dan pendengaran. Film ini mengajarkan pentingnya empati, kesabaran, kasih sayang, dan dukungan terhadap anak berkebutuhan khusus. Film tersebut menunjukkan bahwa anak disabilitas tetap memiliki hak yang sama untuk dicintai, dipahami, dan berkembang.
Pada sesi tanya jawab dijelaskan bahwa anak dengan mata minus atau silinder tidak otomatis disebut tunanetra karena gangguan tersebut masih dapat dikoreksi dengan kacamata atau alat bantu lainnya. Selain itu, faktor internal dianggap lebih sulit ditangani karena bersifat bawaan, sedangkan faktor eksternal lebih mudah dicegah melalui kesehatan dan deteksi dini. Namun, kelompok juga berpendapat bahwa faktor eksternal sering menjadi penyebab dominan karena berkaitan dengan lingkungan dan layanan kesehatan.
Komentar
Posting Komentar